Berita Misi Anak 2022 – Kuartal 2

Sabat ke-6, 7 Mei 2022

“Kakek-Nenek yang Setia!”

Gideon Reyneke (Afrika Selatan)

 

Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah keluarga mulai memelihara Sabat di Afrika Selatan tanpa mengetahui tentang Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Di malam hari, setelah terlalu gelap untuk bekerja di ladang jagung, keluarga Reyneke berkumpul di sekitar meja dapur besar untuk makan malam di rumah pertanian kecil mereka di Afrika Selatan Tengah pada tahun 1920-an. Ayah, ibu dan tujuh anak laki-laki serta empat anak perempuan mereka makan makanan buatan sendiri setiap malam: satu porsi utama bubur jagung bersama dengan beberapa kentang, labu, dan daging. Setelah makan, anak-anak membersihkan piring dari meja, dan ayah membuka Alkitab berbahasa Belanda untuk ibadah keluarga. Anak-anak yang lebih besar mendengarkan dengan penuh perhatian dari kursi kayu mereka di sekitar meja, sementara yang lebih kecil naik ke pangkuan orang tua mereka.

 

Mereka tahu bahwa ketika ayah selesai membaca Alkitab, mereka akan menyanyikan sebuah pujian dan ayah akan berdoa. Pada malam khusus ini, ayah membuka Alkitabnya dan membaca, “ Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan” (Keluaran 20: 8—10). Ayah terkadang mengajukan pertanyaan kepada anak-anak untuk membantu mereka tetap terjaga, tetapi kali ini dia memiliki pertanyaan sendiri. “Dengar,” katanya, bingung. “Di sini tertulis, ‘Enam hari kamu akan bekerja, tetapi pada hari ketujuh kamu akan beristirahat.’” Gagasan untuk beristirahat pada hari ketujuh adalah hal baru baginya. Dia dan keluarganya selalu merayakan hari pertama, hari Minggu, sebagai hari Sabat. Tetapi Alkitab berkata lain. Ayah membuat catatan dalam Alkitab.

 

Di samping katakata, “Enam hari kamu akan bekerja,” dia menulis, “waktu. bekerja” Di samping kata-kata, “Pada hari ketujuh kamu akan beristirahat” dia menulis, “Waktu istirahat.” Masalahnya sudah jelas. Mulai sekarang, dia dan keluarganya akan bekerja dari hari Minggu sampai Jumat, dan mereka akan beristirahat pada Sabat hari ketujuh. Sejak minggu itu, keluarga itu mulai memelihara Sabat seperti yang telah mereka baca di Alkitab. Setiap hari Sabtu, mereka berhenti bekerja dan tidak melakukan pekerjaan rutin. Keluarga-keluarga di pertanian dan tetangga memperhatikan, dan segera tiga keluarga juga memelihara Sabat hari ketujuh. Waktu berlalu, dan seorang penginjil Advent mampir ke pertanian dan menjual kepada ayah sebuah buku berjudul, Perjanjian Tuhan dengan Manusia. Melalui buku itu, ayah dan ibu belajar tentang Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh untuk pertama kalinya.

 

Mereka mengerti bahwa orang lain juga beribadah pada Sabat hari ketujuh. Tidak ada yang tahu apakah ayah dan ibu bergabung dengan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, tetapi empat dari 11 anak mereka menjadi Advent. Salah satu cucu mereka adalah Gideon, seorang pendeta yang membantu menjalankan pekerjaan misi di Divisi Afrika Selatan- Samudra Hindia, divisi yang akan menerima Persembahan Sabat Ketiga Belas Triwulan ini. Gideon, yang merupakan Sekretaris Eksekutif divisi tersebut, sangat senang karena kakek dan neneknya membaca Alkitab dan menaatinya 100 tahun yang lalu. Tuhan juga senang ketika kita membaca dan menaati Alkitab.

 

 

Download Bacaan Misi Anak ini dalam bentuk PDF

 

 

 

 

 

Informasi ini disiapkan & didistribusikan oleh:
Dept. Komunikasi GMAHK Bumi Serpong Damai

Email: contactus@gmahkbsd.org
Website: https://www.gmahkbsd.org/
Facebook: https://www.facebook.com/gmahkbsd/
Instagram: https://www.instagram.com/gmahkbsd/
Youtube: https://www.youtube.com/c/+Gmahkbsd
Twitter: https://twitter.com/gmahkbsd


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published.